Picdeer logo Browse Instagram content with Picdeer

Taman Cadika Pramuka Kota Medan

Instagram photos and videos at Taman Cadika Pramuka Kota Medan

Terkadang,  seseorng menasihati bukan karena dia bijak. Tetapi karena dia pernah mengalami masalah yang sama.
Keliling aja pun enggak ada tujuan πŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™Œ
#cadika punya cerita 🌸😘
Santai sejenak coy.
Mungkin saja itu Cinta (3)  Malam syahdu ditemani secangkir kopi hangat dan perbincangan akrab para peserta dari berbagai belahan negeri. Bahasa Indonesia akrab menyatukan perbedaan di antaranya.  Alur permainan masih terus berlanjut, terhenti saat giliran Abdu. "Truth or dare?" Tantang salah satu teman peserta. Abdu berpikir sejenak, "Truth" kata itu yang keluar dari mulutnya. Yang lain terlihat buas tidak sabar menjajakan serangan demi serangan menohok jantung.  Pengakuan yang ditunggu-tunggu para penyerang itu akhirnya terpuaskan oleh pernyataan Abdu. "Andriana" ucapnya. Aku bergeming, seperti sadar dan tidak ketika berada dalam permainan itu. Namaku disebutnya lirih. Yang lain ikut menyergapku dengan tatapan tajam penuh harap.  Aku masih bingung, apa yang terlewati dariku. "Ada apa? Ada yang aku lewatkan kah?" Ucapku sebagai tameng serangan mereka. "Andriana, beri jawaban untuk pengakuannya. Yes or No?" Ucap seorang teman yang paling senior diantara yang lainnya.  Aku masih diam, kali pertama aku dijajali serangan menohok jantungku, yang membuat pipiku merah, darahku memuncak hangat. Aku tidak berani menatap ke arahnya, walau aku hanya berjarak sekian centimeter dari posisi duduknya "Jangan paksa dy menjawabnya" ucap Abdu. Serangan seolah menjauh dariku, menohok Abdu yang menamengiku. "Aku akan tetap berusaha agar disukai olehnya" kata-kata itu berlanjut dengan jeda diantara debaran hebat jantungku. . . "Allah, Yang Maha pembolak-balik hati manusia. Biarkan saja Allah yang tahu skenario akhirnya" mulutku bicara tanpa jeda. Entah apa yang aku pikirkan. Kalut hatiku menyergap saat itu. Apakah jebakan setan atau Allah yang hadirkan. Tidak ada yang tahu isi hati manusia.  Aku masih menahan malu dengan muka merah jambu. Membuatku canggung, bahkan untuk bicara akrab seperti sedia kala pada sosok hangat penyuka syair itu.  Apa yang membuatnya menyukaiku? Mungkin saja bermula dari obrolan saat malam lelah usai lalui petulangan hari demi hari bersama. Sambil

Loading