Picdeer logo Browse Instagram content with Picdeer

@muhardhy

Muhammad Ardhy Haidar Al Haq

muhardhy

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

  • 750 Total Likes
  • 15 Tot. Comments
Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Rabbmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan, dan bumi Allâh itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. - QS.Az-Zumar:10
muhardhy
muhardhy
HUKUM MENGIDOLAKAN ORANG-ORANG KAFIR  Dimasa sekarang ini banyak manusia yang mengidolakan bahkan cinta kepada orang-orang kafir, baik itu pemain bola, artis dan yang lainnya. . Tidakkah kita renungkan bahwa seseorang akan dikumpulkan dengan orang yg ia cintai dan yg dijadikan idola, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhori). . Semoga bisa jadi renungan! Seharusnya yang jadi idola dan yang dicintai adalah para Nabi, para sahabat dan orang sholih, maka engkau akan bahagia berkumpul bersama mereka. . Pengidolaan ini biasanya berakibat mereka mengikuti sang idola meskipun dalam hal yg merusak keimanan dan akidah Islam, dan lambat laun sampai pada tahapan mengikuti keyakinan kafir dan akidah sesat yg dianut sang idola tersebut. Karena merupakan watak bawaan dalam jiwa manusia, bahwa kesamaan dalam hal yg lahir antara seorang manusia dengan manusia lainnya, lambat laun akan mewariskan kesamaan dalam batin antara keduanya, disadari atau tidak. Ini berarti jika seorang muslim suka meniru tingkah laku dan gaya hidup orang kafir, maka lambat laun hatinya akan menerima dan mengikuti keyakinan rusak orang kafir tersebut. . Rasulullah ﷺ bersabda, “Ruh-ruh manusia adalah kelompok yang selalu bersama, maka yg saling bersesuaian di antara mereka akan saling dekat, dan yg tidak bersesuaian akan saling berselisih.” (HR. Bukhari  dan Muslim)  Rasulullah ﷺ telah memperingatkan dengan keras bahaya perbuatan ini dalam sabda beliau: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad). . Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata, “Sesungguhnya kesamaan dalam (penampilan) lahir (antara dua orang manusia) akan mewariskan kasih sayang, cinta dan loyalitas (antara keduanya) dalam batin/hati, sebagaimana kecintaan dalam hati akan mewariskan kesamaan dalam (penampilan) lahir. . #repost @sunnaheverywhere 📝Muslim or id. . #idola #artis #bola #pria #wanita #kafir
🍃🍃🍃 Swipe bro! ➡️➡️➡️
Membawa Anak Kecil ke Masjid Saat Shalat  Syaikh Muhammad bin Sholeh Al 'Utsaimin rahimahullah ditanya, "Sebagian orang ada yang membawa anak mereka yang belum mencapai umur tamyiz ke masjid ketika hendak shalat. Anak-anak tersebut biasa tidak berperilaku baik ketika shalat, mereka berebutan shaf, mereka biasa bercanda satu dan lainnya sehingga menggelisahkan jamaah yang lain. Apa nasehat engkau terhadap orang yang bertanggung pada anak-anak tersebut?" . Jawaban beliau rahimahullah, Aku berpendapat bahwa membawa anak yang sering mengganggu jama'ah lainnya tidaklah diperbolehkan. Karena perbuatan semacam ini mengganggu jamaah lainnya yang sedang menunaikan ibadah yang wajib. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mendengar sebagian sahabat shalat dan mengeraskan bacaannya, lantas beliau pun bersabda,  لا تجهرن بعضكم على بعض في القراءة . "Janganlah di antara kalian mengeraskan suara satu sama lain dalam bacaan" Dalam riwayat lain disebutkan, "Janganlah kalian saling menyakiti satu sama lain." Intinya, segala perbuatan yang menyakiti orang yang sedang shalat tidaklah dibenarkan.  Nasehatku bagi orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anak tersebut, janganlah membawa mereka ke masjid. Bimbinglah mereka sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam,  مروا أبناءكم بالصلاة لسبع واضربوهم عليها لعشر . "Perintahkanlah anak kalian untuk shalat di saat mereka berusia 7 tahun dan pukullah mereka jika mereka enggan ketika mereka berusia 10 tahun." . Namun aku juga menasehati para jama'ah masjid untuk memberikan keluasan pada anak-anak yang telah diperintahkan untuk ke masjid agar tidak membuat mereka merasa sempit. Biarkanlah mereka berada di shaf yang sudah mereka tempati lebih dahulu. Karena seseorang yang lebih dahulu mendapatkannya, maka dialah yang lebih berhak, terserah ia hanyalah bocah (anak-anak) atau orang yang telah dewasa.  Selengkapnya baca
Swipe ➡️➡️➡️ . . .  Lakukan semua amal shaleh baik itu wajib ataupun sunnah. Paksakan dalam beribadah. Dan berdoa minta dijauhkan dari sifat malas. Karena Rasululllah Shallallahu Alaihi Wasallam saja berdoa meminta kepada ALLAH dijauhkan dari sifat malas. Do'a tersebut adalah: . "Allahumma inni a'udzu bika minal 'ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a'udzu bika minadzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat." . (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian). (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)  Follow @kajianhariansunnah
Selepas Meninggal Apa Yang Terjadi Pada Akun Medsos Anda? . Suatu PERINGATAN sebenarnya bagi kita semua Mari kita RENUNGKAN bersama PIKIRKAN bersama, Jika suatu hari nanti kita MATI, AKUN Media Sosial hanya kita yang tau passwordnya dan Hanya kita yang BISA akses. . Dan. SELEPAS kita meninggal Apa yang terjadi pada akun AKUN Media Sosial? . Mungkin ada yang selalu menjenguk socmed kita sbg OBAT RINDU . TETAPI.. SADARKAH kita? GAMBAR DAN VIDEO kita. Akan terus membuat kita TERSIKSA di Alam kubur. Gambar dan video yang TIDAK ditutupi auratnya.  Postingan postingan mencela, marah marah, kata kata kasar atau membuly seseorang, dsb.  Bagaimana NANTI? Orang orang terus menerus MELIHATNYA. Dan kadang ada gambar dan video kita yang di tag-kan ke teman2 kita Walaupun SUDAH bertahun-tahun kita MATI, Gambar itu terus ada SAHAM DOSA TERUS MENINGKAT. . BAGAIMANA? PERNAH berpikir tidak? Legging dan jeans ketat, BISAKAH menyelamatkan kita? Baju yang TIDAK membalut aurat itu, bagaimana?  Saat kit meninggal aurat kita msih bs dinikmati banyak orang dan menjadi ladang dosa jariyah.  Naudzubillah.  Di akhirat nanti Semua itu tidak akan membawa ARTI Semua HANYA tinggal kenangan bagi yang masih hidup. Di alam KUBUR, semua itu TIDAK sedikitpun dapat menyelamatkan kita . Mari kita bersama-sama RENUNGKAN SAHAM DOSA yang terus MENINGKAT walau setelah KETIADAAN kita di muka BUMI Sampai kita di AKHERAT . Tutupilah auratmu SEBELUM auratmu ditutupkan Peliharalah dirimu SEBELUM dirimu di kafankan Jagalah HARGA DIRI sebagai seorang muslim muslimah SEJATI. Mati itu PASTI. Persiapkan DIRI untuk mati itu perlu. . Semoga Allaah Subhanahu wa Ta’ala ridha dengan renungan ini. Aamiin . . . Follow @dakwah_tauhid . . #dakwahtauhid #dakwah #tauhid #selfie #dosa#dosajariyah
IMAM SYAFI'I MENDAHULUKAN DALIL DARIPADA AKAL  Termasuk pokok-pokok Ahli Sunnah wal Jama'ah adalah bahwa akal bukanlah pedoman untuk menetapkan hukum dan aqidah, namun patokannya adalah dalil yang bersumber dari al-Qur'an dan sunnah, sedang akal hanyalah alat untuk memahami.  Maka amatlah salah jika menjadikan akal sebagai hakim terhadap dalil al-Qur'an dan hadits sebagaimana dilakukan oleh sebagian kalangan, sehingga benar Imam as-Sam'ani tatkala mengatakan, "Mereka menjadikan akal-akal mereka sebagai para penyeru kepada Allah dan menjadikannya seperti rasul di tengah-tengah mereka. Seandainya ada orang mengatakan:" Tiada ilah (sembahan) yang berhak diibadahi kecuali Allah dan akal adalah rasulku", niscaya hal itu bukanlah sesuatu yang salah bagi ahli kalam secara makna. Inilah yang ditegaskan oleh Imam Syafi'i tatkala berkata :  إِنَّ لِلْعَقْلِ حَدًّا يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ لِلْبَصَرِ حَدًّا يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ . "Sesungguhnya akal itu memiliki batas sebagaimana pandangan mata juga memiliki batas." Imam Nawawi berkata, "Madzhab kami dan madzhab seluruh Ahlus Sunnah adalah bahwa hukum itu tidak ditetapkan kecuali dengan syari'at dan bahwa akal tidaklah menetapkan sesuatu pun." Masalah ini merupakan salah satupembeda antara Ahlus Sunnah wal Jama'ah dengan kelompok-kelompok sesat. Abdul Muzhaffar as-Sam'ani berkata, "Perbedaan mendasar antara kita (ahli sunnah) dengan ahli bid'ah adalah dalam masalah akal, mereka membangun agama mereka di atas akal dan menjadikan dalil mengikut kepada akal. Adapun Ahlus Sunnah berkata: 'Asal dalam agama adalah ittiba' (mengikut dalil), akal hanyalah mengikut.' Seandainya asas agama ini adalah akal, tentunya mahluk tidak memerlukan wahyu dan nabi, tidak ada artinya perintah dan larangan dan dia akan berbicara sesukanya. Seandainya dibangun di atas akal maka konsekuensinya adalah boleh bagu kaum mukminin untuk tidak menerima sesuatu sehingga
Temanmu ialah orang yang menangiskanmu (membuatmu menangis) bukan orang yang membuatmu tertawa. - Peribahasa Arab
Tidak perlu tergesa - gesa. Nikmatilah sujudmu. .  عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الأَشْعَرِيِّ ، أَن ّرَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلا لا يُتِمَّ رُكُوعَهُ يَنْقُرُ فِي سُجُودِهِ وَهُوَ يُصَلِّي ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ هَذِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَثَلُ الَّذِي لا يُتِمُّ رُكُوعَهُ ويَنْقُرُ فِي سُجُودِهِ ، مَثَلُ الْجَائِعِ يَأْكُلُ التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَانِ لا يُغْنِيَانِ عَنْهُ شَيْئًا .  Dari Abu ‘Abdullah al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’nya dan mematuk di dalam sujudnya ketika ia sedang shalat, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika orang ini mati dalam keadaannya ini, maka ia benar-benar mati tidak di atas agama Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang tidak menyempurnakan ruku’nya dan mematuk di dalam sujudnya, (ialah) seperti orang lapar makan satu biji kurma, padahal dua biji kurma saja tidak bisa mencukupinya”. .  Abu Shalih (seorang perawi di dalam sanad hadits ini) berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdullah, ‘Siapakah yang telah menceritakan hadits ini kepadamu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Dia menjawab, “Para komandan tentara, ‘Amru bin
Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ . “Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa; “Allahumma mushorrifal quluub shorrif  quluubanaa ‘ala tho’atik” [Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!] (HR. Muslim no. 2654). An Nawawi membawakan hadits ini dalam bab, “Allah membolak-balikkan hati sekehendak-Nya.” . Faedah hadits:  1. Hati manusia berada di antara dua jari dari sekian jari Allah yang Maha Pemurah. Allah memalingkan hati manusia tersebut  sesuai kehendak-Nya.  2. Jika sudah mengetahui demikian, maka hendaklah setiap hamba rajin memohon pada Allah agar diberi hidayah dan keistiqomahan serta agar tidak menjauh dari jalan yang lurus.  3. Jika seorang hamba bergantung dan bersandar pada dirinya sendiri, tentu ia akan binasa.  4. Hendaknya hamba menyerahkan segala usahanya kepada Allah Ta’ala dan janganlah ia berpaling dari-Nya walaupun sekejap mata.  5. Hendaklah setiap hamba memohon kepada Allah agar terus menerus diteguhkan hati  dalam ketaatan dan tidak sampai terjerumus dalam maksiat atau kesesatan.  6. Di sini dikhususkan hati karena jika hati itu baik, maka seluruh anggota badan lainnya juga ikut baik.  Semoga
😊
Allah SWT berfirman:  فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman 55: Ayat 13)  Ayat yang disebut oleh Al Quran secara berulang hingga 31 kali, maknanya agar selalu kita bersyukur atas segala nikmat yang diberi Allah subhanahu wa ta'ala. Jika kita sudah bersyukur sekali maka jangan bosan untuk terus bersyukur Alhamdulillah atas segala nikmat yang banyak tersebut. Jadi, sudah sebanyak apakah kamu bersyukur hari ini?
The more time you devote to your prayers, the more sincere they will be
Manusia kurang bersyukur pada apa yang telah dimiliki itu sudah sangat lumrah, karena manusia tempatnya salah.  Kadang manusia juga lebih sering mengarahkan pandangannya pada sesuatu yang belum bisa dilihat ujungnya, hingga syukur hanya berhenti diujung lidah.  Kita, para manusia yang hidup diakhir zaman ini juga sering mengklaim "ini semua karena kerja kerasku" atas hal baik yang menimpa diri kita. Tapi selalu mengklaim "ini sudah menjadi takdir Tuhan" atas segala hal buruk yang singgah dalam hidup kita.  Bukankah begitu?  Syukur dan kufur tempatnya dihati hanya diri kita sendiri yang tahu. Tempatkan diri kita sebagai pemain kehidupan, bukan sebagai wasit yang kerjaannya memang mencari-cari kesalahan pemain. . Dan ingatlah bahwa semua yang ada pada kehidupan kita, semata-mata adalah bentuk kebaikan Allah pada kita. Bukan karena hebatnya kita, bukan karena usaha kita. Karena Allah itu Rahman dan Rahiim ❤❤ . Well. Pada akhirnya kita emang  nggak  akan pernah bisa mengukur kebahagiaan seseorang dengan sesuatu yang bahkan itu membuat kita terbang dalam kebahagiaan. Pun , kita juga tidak bisa menyamakan penderitaan orang lain dengan kita. . Jangan lupa "bercermin" hingga kita tau mana yang harus kita benahi dari diri kita. Jangan lupa untuk menambah porsi syukur kita. . . 📄 Grub Broadcast @beraniberhijrah
| MEMBACA AL QURAN ADALAH PERDAGANGAN YANG TIDAK PERNAH MERUGI | . Sebagian orang malas membaca Al Quran padahal di dalam terdapat petunjuk untuk hidup di dunia. . Sebagian orang merasa tidak punya waktu untuk membaca Al Quran padahal di dalamnya terdapat pahala yang besar. . Sebagian orang merasa tidak sanggup belajar Al Quran karena sulit katanya, padahal membacanya sangat mudah dan sangat mendatangkan kebaikan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: . {الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)} . “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30). . Dari manakah sisi tidak meruginya perdagangan dengan membaca Al Quran? . Satu hurufnya diganjar dengan 1 kebaikan dan dilipatkan menjadi 10 kebaikan. . .عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
Petuah berikut yang pernah disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, persatuan itu rahmat. Perpecahan itu azab.  عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْمِنْبَرِ « مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ ». . Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia. berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan petuah di mimbar, “Siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, ia akan sulit mensyukuri yang banyak. Siapa yang tidak mau berterima kasih pada manusia, berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah bentuk syukur. Enggan menyebutnya adalah bentuk kufur. Bersatu dalam satu jama’ah adalah rahmat. Sedangkan perpecahan adalah azab.” (HR. Ahmad, 4: 278. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan, perawinya tsiqah sebagaimana disebutkan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667)  Beberapa catatan kaki dari hadits di atas dari Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq Musnad Al-Imam Ahmad: . • Siapa yang sulit mensyukuri yang sedikit, maka ia sulit mempraktikan syukur yang hakiki secara keseluruhan. . • Boleh menyebut-nyebut nikmat yang telah Allah beri asal bukan dalam rangka menyombongkan diri. . • Bersepakat dan bersatu ketika terlihat seperti satu jama’ah itu lebih baik, daripada berpecah belah. . • Perkataan yang masyhur di tengah-tengah kita “ikhtilaf (perbedaan) umatku adalah rahmat”, tidak diketahui ada hadits yang lafazhnya semacam itu.  Semoga bermanfaat.  Sumber

Loading